Rabu, 20 November 2013

Meraih Citacita

Membangun Motivasi Dalam Diri


Cita-cita atau tujuan hidup ini hanya bisa diraih jika kita memiliki motivasi yang kuat dalam diri kita. Tanpa motivasi apapun, sulit sekali kita menggapai apa yang kita cita-citakan. Tapi tak dapat dipungkiri, memang cukup sulit membangun motivasi di dalam diri sendiri. Bahkan mungkin kita tidak tahu pasti bagaimana cara membangun motivasi di dalam diri sendiri. Padahal sesungguhnya banyak hal yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan motivasi tersebut.
Caranya? coba simak tips berikut ini:
1. Ciptakan sensasi
Ciptakan sesuatu yang dapat “membangunkan” dan membangkitkan gairah kita saat pagi menjelang. Misalnya, kita berpikir esok hari harus mendapatkan keuntungan 1 milyar rupiah. Walau kedengarannya mustahil, tapi sensasi ini kadang memacu semangat kita untuk berkarya lebih baik lagi melebihi apa yang sudah kita lakukan kemarin.
2. Kembangkan terus tujuan kita
Jangan pernah terpaku pada satu tujuan yang sederhana. Tujuan hidup yang terlalu sederhana membuat kita tidak memiliki kekuatan lebih. Padahal untuk meraih sesuatu kita memerlukan tantangan yang lebih besar, untuk mengerahkan kekuatan kita yang sebenarnya. Tujuan hidup yang besar akan membangkitkan motivasi dan kekuatan tersendiri dalam hidup kita.
3. Memikirkan saat kematian datang
Kita perlu memikirkan saat kematian datang, meskipun gejala ke arah itu tidak dapat diprediksikan. Membayangkan saat-saat terakhir dalam hidup ini sesungguhnya merupakan saat-saat yang sangat sensasional. Kita dapat membayangkan ‘flash back’ dalam kehidupan kita. Sejak kita menjalani masa kanak-kanak, remaja, hingga tampil sebagai pribadi yang dewasa dan mandiri. Jika kita membayangkan ‘ajal’ kita sudah dekat, akan memotivasi kita untuk berbuat lebih banyak lagi selama hidup kita.
4. Tinggalkan teman yang tidak perlu
Jangan ragu untuk meninggalkan teman-teman yang tidak dapat mendorong kita mencapai tujuan. Sebab, siapapun teman kita, seharusnya mampu membawa kita pada perubahan yang lebih baik. Ketahuilah bergaul dengan orang-orang yang optimis akan membuat kita berpikir optimis pula. Bersama mereka hidup ini terasa lebih menyenangkan dan penuh motivasi.
5. Hampiri bayangan ketakutan
Saat kita dibayang-bayangi kecemasan dan ketakutan, jangan melarikan diri dari bayangan tersebut. Misalnya selama ini kita takut akan menghadapi masa depan yang buruk. Datang dan nikmati rasa takut kita dengan mencoba mengatasinya. Saat kita berhasil mengatasi rasa takut, saat itu kita telah berhasil meningkatkan keyakinan diri bahwa kita mampu mencapai hidup yang lebih baik.
6. Ucapkan “selamat datang” pada setiap masalah
Jalan untuk mencapai tujuan tidak selamanya semulus jalan tol. Suatu saat kita akan menghadapi jalan terjal, menanjak dan penuh bebatuan. Jangan memutar arah untuk mengambil jalan pintas. Hadapi terus jalan tersebut dan pikirkan cara terbaik untuk bisa melewatinya. Jika kita memandang masalah sebagai sesuatu yang mengerikan, kita akan semakin sulit termotivasi. Sebaliknya bila kita selalu siap menghadapi setiap masalah, kita seakan memiliki energi dan semangat berlebih untuk mencapai tujuan kita.
7. Mulailah dengan rasa senang
Jangan pernah merasa terbebani dengan tujuan hidup kita. Coba nikmati hidup dan jalan yang kita tempuh. Jika sejak awal kita sudah merasa ‘tidak suka’ rasanya motivasi hidup tidak akan pernah kita miliki.
8. Berlatih dengan keras
Tidak bisa tidak, kita harus berlatih terus bila ingin mendapatkan hasil terbaik. Pada dasarnya tidak ada yang tidak dapat kita raih jika kita terus berusaha keras. Semakin giat berlatih semakin mudah pula mengatasi setiap kesulitan.
Kesimpulan:
Motivasi dapat menumbuhkan semangat dalam mencapai tujuan. Motivasi yang kuat di dalam diri, kita akan memiliki apresiasi dan penghargaan yang tinggi terhadap diri dan hidup ini. Sehingga kita tidak akan ragu untuk melangkah ke depan, yaitu mencapai visi hidup kita.
Salam Sukses !

Keluarga Gue Gitu Lho

  1. Yosepha cintya bella Sianturi
    Bapak gue main Piano sama Kakak Yohanna Love Tobing
  2. My Father .
  3. atas My Mother , Bawah Gue dan dedek gue
  4. Abang Gue Yosua Sianturi.
  5. My Father and My Mother

Rabu, 06 November 2013

CERITA ANAK YANG PINTAR

Anak Desa yang Pintar


Anak Desa yang Pintar
   Oleh: Elwin FL Tobing   
    
                Sari seorang anak desa. Dia tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota. Desa tempat tinggal Sari dikelilingi oleh pesawahan. Juga hutan tempat orang-orang desa mencari kayu bakar. Sebuah sungai berair jernih mengalir di pinggir sawah. Sungai itu tempat Sari dan orang-orang desa mencuci piring dan pakaian. Juga tempat mandi yang menyegarkan. Ikan-ikan kecil terlihat berenang dengan lincah di dalam air. Sari dan teman-temannya sering berusaha menangkap ikan-ikan itu. Tapi ikan-ikan itu sangat gesit menghindar. Sulit untuk ditangkap.
                Di desa Sari belum ada sekolah. Oleh karena itu Sari bersekolah di desa tetangga. Jarak tempat tinggal Sari dengan sekolahnya sejauh dua kilometer. Setiap hari Sari dan anak-anak lain dari desanya berjalan kaki menuju sekolah. Mereka harus melewati hutan kecil dan pematang sawah agar sampai di sekolah. Kalau sedang musim hujan, Sari dan teman-temannya berpayung daun pisang menuju sekolah. Sepatu dan kaus kaki harus dilepas dan dimasukkan ke dalam kantong plastik agar tidak basah. Walau turun hujan, Sari dan kawan-kawannya tetap semangat ke sekolah.
                Setiba di sekolah, mereka masuk ke kelas masing-masing. Sari masuk ke kelas lima. Meletakkan tas-nya di meja baris ketiga. Gedung sekolah Sari juga sudah mulai lapuk. Atapnya banyak yang bocor. Meja dan bangkunya reyot dan banyak coret-coretan. Lantainya pecah-pecah. Debu mengendap di sela-sela pecahan lantai. Saat angin bertiup, debu itu terangkat dan terbang ke udara. Kalau masuk ke dalam hidung akan menyebabkan bersin-bersin.
                Suatu hari Pak Budi mengumumkan bahwa akan diadakan lomba Cerdas Tangkas antar SD di kecamatan. Dan guru-guru akan memilih murid yang paling pintar dari anak kelas lima dan kelas enam untuk mengikuti Cerdas Tangkas itu. Dan murid yang terpilih harus mempersiapkan diri. Mereka harus lebih banyak belajar dan berlatih mengerjakan soal. Lomba Cerdas Tangkas itu akan diadakan dua bulan lagi. Untuk itu siswa yang terpilih nanti harus mempersiapkan diri dengan baik.
                “Percuma kita mengikuti Cerdas Tangkas itu. Kita pasti tak akan bisa menang.” Kata Jono saat jam istirahat. Jono, Sari dan kawan-kawannya sedang mencari ubi di bekas ladang dekat sekolah. Ubi itu akan mereka bakar. Jono dan banyak temannya adalah anak orang miskin. Mereka tidak punya uang jajan. Makanya untuk mengganjal perut mereka mencari ubi itu.
                “Kenapa kau bilang begitu, Jon?” tanya Arwin.
                “Ya jelas kita tidak akan sanggup mengalahkan sekolah lain. Gedung sekolah mereka bagus, buku-bukunya lengkap. Banyak dari mereka anak orang kaya. Mereka pintar-pintar. Melihat mereka saja kita sudah minder duluan.” Jelas Jono. Kawan-kawannya mengangguk menyetujui pendapat Jono.
                “Selama ini kita memang tidak pernah menang. Kita selalu jadi urutan terbawah setiap lomba Cerdas Tangkas.” Timpal Rendi.
                “Makanya kita harus belajar lebih giat agar bisa menang.” Sahut Sari.
                “Tidak mungkin kita bisa mengalahkan sekolah lain, Sar. Mereka jauh lebih dalam segala hal. Lihat sekolah kita, sebentar lagi mungkin ambruk.” Kata Jono. Sari terdiam. Percuma kalau membantah. Tapi dalam hati Sari bertekad, kalau dia terpilih jadi peserta lomba Cerdas Tangkas itu, Sari akan berusaha melakukan yang terbaik.
                Keesokan harinya Pak Budi mengumumkan bahwa yang akan mengikuti Cerdas Tangkas dari sekolah mereka adalah Erna dan Ani dari kelas enam, serta Sari yang masih kelas lima.  
                “Ayo tepuk tangan dong. Kasih semangat buat teman kita yang mau bertanding.” Seru Pak Budi. Murid-murid bertepuk tangan dengan enggan. Tidak ada dukungan semangat. Mereka merasa sekolah mereka sudah kalah lebih dulu sebelum bertanding. Melihat itu Sari, Erna dan Ani  tersenyum kecut. Walaupun begitu mereka berjanji akan berusaha sebaik-baiknya. Ketiga murid yang terpilih itu berlatih sungguh-sungguh. Mereka rajin mengerjakan soal-soal pelajaran. Guru-guru juga membantu dan mendukung dengan baik. Pak Budi sering memberikan semangat membuat Sari, Erna dan Ani semakin rajin dan bertekad melakukan yang terbaik.
                Saat pertandingan akhirnya tiba. Sari, Erna dan Ani sudah siap menjawab setiap pertanyaan. Peserta dari sekolah lain juga tampak siap di samping mereka. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Sari, Erna dan Ani berusaha menjawab dengan gesit dan benar. Tapi peserta dari sekolah lain juga tidak mau kalah. Terjadi susul menyusul dalam perolehan angka. Tapi akhirnya Sari, Erna dan Ani berhasil mengumpulkan angka terbanyak. Mereka bersorak kegirangan. Lalu berpelukan penuh rasa syukur dan bangga. Sari, Erna dan Ani berhasil keluar sebagai juara pertama.
                Ketika teman-teman mereka yang lain mendengar kabar kemenangan itu, banyak yang tidak percaya. Tapi ketiga keesokan harinya Bapak Kepala Sekolah mengumumkan secara resmi, semua murid bersorak kegirangan dan bertepuk tangan. Mereka menyalami Sari, Erna dan Ani.
                “Hebat kalian..” puji Jono sambil menyalami ketiga temannya yang pintar itu.
                “Makanya tidak boleh menyerah sebelum melakukan usaha terbaik.” Sahut Sari.
                “Benar, Sar. Mulai sekarang aku akan belajar dengan rajin walau pun sekolah kita lebih jelek dari sekolah lain.” Janji Jono.
                Berkat kemenangan dalam lomba Cerdas Tangkas itu, sekolah mereka jadi terkenal. Pada suatu hari bupati datang berkunjung. Bupati memberi selamat atas kemenangan sekolah itu dalam lomba cerdas tangkas. Bupati juga memerintahkan agar sekolah itu diperbaiki dan jalan-jalan desa di aspal. Setelah diperbaiki, sekolah itu jadi tampak megah dan indah. Sari dan kawan-kawannya semakin rajin datang ke sekolah dan belajar dengan giat. Jalan-jalan desa juga sudah diaspal. Dengan demikian, jalan itu sudah bisa dilalui kendaraan. Sari dan kawan-kawannya tidak perlu lagi berjalan kaki ke sekolah. Sekarang mereka sudah naik angkutan desa. Betapa senangnya hati Sari.
~Dimuat di harian analisa 18des2011 

Kisah nenek yg sabar dan anak baik hati


Disebuah desa ada sebuah rumah di daerah pedesaan dan tinggal sangat kejam meraka gak peduli pada si nenek tiba suatu hari datanglah seorang anak yg sangat baik yg berhati mulia dia selalu membawa makanan yg si nenek mau tiba tiba si pemilik rumah berkata jangan kau bawakan nenek makanan lagi lalu si anak gak memperdulikan perkataan pemilik rumah tiba hari kedua anak itu membawa makanan setelah anak itu pergi si nenek di marahi pemilik rumah
Pada hari ketiga anak itu juga datang lagi membawa sebuah makanan kecil ya nggak seberapa sich tapi sepemilik rumah tidak memperbolehkan lalu makanan itu disuruh bawa pulang kembali tapi anak itu tak memperdulikan ucapan pemilik rumah ketika anak itu berjalan menuju rumah nenek ada orang yang bilang bahwa si nenek nggak boleh dibawakan makanan lagi tapi anak itu bersikukuh membawakan makanan ketika anak itu pulang nenek lalu dibentak bentak entah apa yg terjadi ketika anak itu datang seluruh badan nenek memar semua nenek bilang pada anak itu sambil berbisik bahwa nenek di lukai oleh pemilik rumah dan nenek berkata jgn bilang pada pemilik rumah jika kamu berkata pada pemilik rumah maka aku akan dilukai kembali
Setelah selang beberapa hari anak itu kembali lagi lalu anak itu nggak datang dengan tangan kosong anak itu membawa makanan dan daun sirih tapi suatu ketika makanan itu dibuang jelas anak itu nggak bisa berbuat sesuatu karena jarak rumah nenek dan anak itu agak jauh tapi anak itu nggak berhenti sampai disitu sampai suatu ketika anak itu menangis karena tidak diperbolehkan memberi makanan lagi bukannya gak boleh memberi tapi sama si pemilik rumah tidak boleh ngasih makanan lagi sampai suatu hari anak itu putus asa nggak akan datang lagi lalu bagimana nasib sang nenek selanjutnnya kita nggak akan tau kalau kita nggak datang sendiri rumahnya sangat meyedihkan jika kita tau ranjang pun juga dikasih orang keluarganya pun nggak ada yg peduli Cuma anaknya dan tetangga sekitar saja sampai suatu saat nenek ingin mengahiri hidupnya anak itu cerita bahwa dia ingin membawa nenek itu ke rumahnya tapi sama kedua orang tuanya tidak diperbolehkan sampai suatu ketika anak itu berfikir ingin membelikan sebuah kursi roda tapi semua orang nggak setuju supaya nenek itu bisa kemana mana karena nenek itu lumpuh karena sudah tua kadang anak itu berfikir agar nenek supaya cepat meniggal tapi gimana ya kasian juga soalnya nenek itu gak bisa apa apa makan aja gak bisa ya kalau ada orang menjenguk baru bisa makan sampai suatu ketika nenek terkena paku dan jatuh dilantai
Sampai suatu hari nenek tua itu merasa kesepian dan nenek itu harus sendirian dan merasa hidupnya gak berarti lagi tapi si anak terus memberi semangat supaya nenek lebih sabar menghadapi kehidupan ini nenek aku mau bilang sabarlah dalam menjalani hidup

Selasa, 05 November 2013

Cerita Anak Yang Baik Hati

AMIRA YANG BAIK HATI


    Suatu hari, Amira sedang bermain di rumahnya. Tiba tiba temannya datang meminta bantuannya untuk menurunkan kucingnya yang berada di atas pohon, kebetulan Mira memang pandai memanjat pohon akhirnya Mira setuju untuk membantu temannya mengambil kucing temannya. Temannya pun berterima kasih kepadanya.
    Keesokan harinya ia sedang makan di rumahnya, datanglah seorang pengemis “Nak, tolong beri saya sesuap nasi dan setetes minuman.. Tolong .. Tolong” kata pengemis itu. “Baiklah, tunggu sebentar” kata Mira. Tidak lama kemudian Mira datang dengan sepotong roti, dan segelas air bening. “Terimakasih nak, semoga kamu selalu dilindungi Allah SWT.”Ucap pengemis itu. “Amin..” kata mira.
    Lalu pengemis itu pergi. Tiba-tiba ibunya keluar dari kamar, “Ada apa nak?” tanya ibunya. “Tadi ada pengemis bu tadi dia minta makanan dan minuman lalu aku kasih deh.” Jawab Mira. “Bagus nak. Kamu itu memang anak yang baik hati.” Kata ibunya. “terimakasih bu.” Kata Mira. “Sekarang, tolong belikan ibu tepung dan telur untuk membuat kue nastar ya nak. Kalau selai nanasnya sudah ada di dalam rumah. Ini uangnya.” Kata ibunya sambil menyerahkan uang kepada Mira.
    “Baik bu.” Jawab Mira sambil berjalan menuju warung. Tidak lama kemudian, Mira kembali datang dengan tepung, telur dan uang kembalian. Tapi… Mira berhenti ternyata uang kembaliannya kelebihan. Lalu mira langsung berbalik arah menuju warung itu dan mengembalikan uang lebihnya.  Kamudian Mira langsung kembali menuju rumah dan memberikan tepung, telur, dan uang kembaliannya kepada Ibunya.
     Ibunya dari tadi hanya memandangi anaknya denan rasa bangga karena ia memiliki sifat yang jujur dan baik hati.  “Nak, sekarang tolong bantu ibu untuk mencuci piring.” Perintah Ibu. “Iya bu,” Jawab Mira. Lalu Mira pergi ke kamar mandi untuk mencuci piring. Selesai mencuci piring Mira melapor ke Ibunya.
    “Bu, Aku sedah selesai mencuci piring.” Lapor Mira. “Ya, Terima kasih Mira. Sekarang kamu boleh main. Sana.. cepat, main!” Suruh Ibunya. “Hoooreeee….” Sorak Mira sambil berlari menuju rumah temannya. Ibunya yang melihat tingkahnya hanya tersenyum-senyum geli.  Di rumah temannya yang bernama Nina, ia sedang bermain lompat tali.
    Tiba-tiba, temannya yang bernama Tari menghampirinya. “Halo Mira! Kamu sedang apa?” Sapa Tari. “Halo juga Tari! Aku sedang bermain lompat tali dengan Nina, dan Yuri. Kamu mau ikut main gak?” Tanya Mira. “Tidak dulu lah, notebook ku sedang ada masalah.” Kata Tari. “Masalah apa?” tanya Mira. “Itu lho, notebook ku kemasukan virus tapi aku tidak bisa menghilangkan nya.” Jawab Tari.
    “Oh ya sudah, bagaimana kalau aku bantu kamu menghilangkan virusnya? Aku bisa ko’.” Menawarkan diri. “Oke. Aku tunggu di rumah ku jam 11.00 nanti.” Jawab Mira. “Oke juga. Hehehe…” Seru Mira. Waktu pun berlalu jam 11.00 pun tiba. Mira kemudian izin terlebih dahulu kepada Ibunya “Bu Mira mau ke rumah Tari untuk membantunya.” Tanya Mira kepada Ibunya.  “Iya Mira.” Jawab Ibunya.
    Kemudian Mira segera pergi ke rumah Tari. Sesampainya di sana ia langsung di sambut oleh Tari yang sedang membaca buku cerita. Tari langsung mengambil notebooknya. Kemudian keluar dengan membawa Notebook. “Ini notebooknya.” Kata Tari sambil menyodorkan notebooknya kepada Mira.  Tak memakan waktu yang lama Mira berhasil menghilangkan vires di notebook milik Tari. “Terimakasih Mira.” Kata Tari. “Sama-sama.” Jawab Mira.
    “ya sudah ya, aku mau pulang dulu masih ada yang butuh bantuan ku di rumah. Hehehe…” Kata Mira. “Iya Mira yang Baik.” Jawab Tari. Di rumah pun ia masih membantu Ibunya. Bukan Cuma itu lho teman-teman di mana saja ada orang yang kesulitan jika ia melihatnya ia pasti akan selalu membantunya.

Negeri Kupu Kupu

Cerita Anak: Negeri Kupu-kupu


cerita-anak-negeri-kupu-kupuCerita Anak: Negeri Kupu-kupu – Sudah tiga hari Liza tidak masuk sekolah karena kakinya kesleo gara-gara jatuh dari sepeda.. Setiap pagi sampai siang ia di rumah sendirian. Bi Imah, pembantunya, juga sedang pulang kampung menjenguk neneknya yang sedang sakit.. Papa dan Mama kerja sampai sore sedangkan Kak Rizka juga sekolah sampai siang. Liza bosan seharian hanya baca komik atau nonton tivi.
Pagi itu Liza sedang meniup pianika untuk mengusir rasa sepi di teras belakang rumah sambil mengisi teka-teki dari sebuah majalah anak-anak. Ada tiga pertanyaan yang baru dijawab Liza dalam teka-teki itu. Pertama, apa nama taring gajah ? Gading Kedua, apa makanan kesukaan beruang ? Madu. Dan ketiga, air laut mengandung apa ?Garam. Ketika ia mencoba memainkan lagu Kupu-Kupu Yang Lucu, tiba-tiba perhatiannya tertuju pada seekor kupu-kupu berwarna kuning yang terjebak di kaca jendela. Kupu-kupu itu kelabakan sambil menabrak kaca jendela karena ingin keluar sehingga menimbulkan suara berisik.
“ Kasihan”, bisik hati Liza. Ia pun berhenti meniup pianikanya dan berjalan dengan tertatih-tatih sambil menahan sakit menuju ke jendela. Kupu itu semakin ketakutan ketika melihat Liza mendekat. Tetapi Liza membuka jendela dan dengan lembut menghalau kupu tersebut agar bisa keluar. Kupu kuning itu pun terbang bebas. Liza kembali ke tempat duduknya untuk melanjutkan lagunya sambil menyelesaikan teka-tekinya.
Sedang asyiknya Liza melanjutkan nyanyiannya , tiba-tiba kupu-kupu kuning tadi sudah ada di hadapannya. Ia hinggap di pangkuan Liza sambil mengepak-kepakkan sayapnya. Dan betapa terkejutnya ketika kupu itu berbicara.
“ Terimakasih Liza. Kau anak yang baik hati. Biasanya anak-anak suka mengejar –ngejar dan menangkapi kupu-kupu, bahkan tak jarang menyiksa dan me bunuh, tetapi kau telah menolong aku.. Sebagai ungkapan terimakasihku, aku akan mengajakmu melawat ke Negeri Kupu-Kupu. Ayo Lisa! Ikuti aku!”, ajak kupu itu sambil terbang.
Kupu kuning itu terbang pelahan dan dikuti Liza berjalan terpincang-pincang sampai tiba di sebuah batu hitam di pojok kebun.

Senin, 04 November 2013

Cerita Anak Sekolah Minggu


Perjuangan Pohon Bambu

Tidak dikenal

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
"Ya," jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.
Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.
Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."
Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"
"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi
"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."
Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.

Cerita Anak Sekolah Minggu


Perjuangan Pohon Bambu

Tidak dikenal

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
"Ya," jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.
Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.
Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."
Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"
"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi
"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."
Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.


Anak yang suka berteriak "Serigala!"

diceritakan kembali oleh Judy Hamilton

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak gembala di sebuah desa kecil di pegunungan. Tugasnya adalah menjaga ternak milik penduduk desa, setiap hari membawa domba-domba itu ke padang rumput dan jika hari sudah senja menggiring domba itu kembali ke kandangnya. Pada musim panas gembala itu harus membawa domba-domba ke padang rumput yang lebih tinggi di atas gunung, tetapi malam harinya demi keselamatan ia tetap harus membawa domba itu kembali ke desa; di pegunungan itu banyak serigala yang akan menerkam domba-domba yang masih berkeliaran di padang rumput pada malam hari.
Si gembala sangat menyukai pekerjaannya, tetapi kadang-kadang ia merasa kesepian karena seharian berada di gunung tanpa teman.
Pada suatu hari di akhir musim panas, si gembala duduk di antara domba-dombanya di atas rumput gunung yang hijau, sambil mengamati desa yang terletak di bawahnya. Ia dapat melihat anak-anak, yang kelihatannya sangat kecil, sedang bermain-main di lapangan desa. Ia dapat melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk mempersiapkan hari pasar. Dan ladang di luar desa dilihatnya orang-orang sedang bekerja keras menjaga panenan yang sudah hampir dapat dituai. Setiap orang mempunyai teman untuk diajak bercakap-cakap atau bekerja. Dari semua penduduk desa, si gembalalah satu-satunya yang harus bekerja sendirian. Rasanya tidak adil.
Ia melihat berkeliling ke arah domba-domba yang sedang memakan rumput dengan tenang. Ia menyayangi domba-domba itu, tapi mereka tak dapat diajak bercakap-cakap atau membuatnya tertawa.
Si gembala merasa sangat bosan. Tak pernah ada kejadian yang menarik. Seandainya saja di pegunungan itu ada serigala, tapi seekor pun tak pernah terlihat. Sudah lama sekali serigala tidak kelihatan di situ......
Tiba-tiba si gembala mendapat ide. Ia tahu bagaimana caranya membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup. Ia melompat lalu lari ke lereng gunung ke arah desa. Sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya dibuat menjadi corong di mulutnya, lalu ia pun berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA! SERIGALA!"
Jauh di bawah, orang-orang desa mendengar teriakan gembala dan menjadi panik. Setiap orang segera berhenti bekerja. Pekerja-pekerja di ladang mengumpulkan tajak dan penggaruk mereka untuk digunakan sebagai senjata. Perempuan-perempuan mengambil sapu mereka. Anak-anak membawa tongkat untuk dilambai-lambaikan. Kemudian seisi desa bergegas ke lereng gunung untuk membantu si gembala.
Hari itu sangat panas dan gunung itu sangat curam, tetapi penduduk desa memanjat secepat mungkin. Ketika mereka sampai di padang rumput, mereka mencari-cari serigala tapi tak dapat menemukan seekor pun. Domba-domba sedang merumput dengan tenang, dan si gembala tertawa terbahak-bahak.
Ketika menyadari bahwa mereka ditipu oleh gembala, marahlah penduduk desa.
"Perbuatamu sangat bodoh!"kata mereka. "Kami telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga!"
Gembala itu meminta maaf, tapi diam-diam ia merasa puas karena tipuannya berhasil. Ia sangat senang!
"Jangan ulangi perbuatanmu,"seorang tua memperingatkannya. "Kalau nanti engkau betul-betul memerlukan pertolongan, tak seorangpun mau menolongmu."
Dengan masih marah penduduk desa meninggalkan gembala dan kembali ke lereng gunung.
Waktupun berlalu. Untuk beberapa lamanya gembala merasa kurang disukai oleh penduduk desa, tapi kemudian mereka memaafkannya dan segala sesuatunya kembali normal. Seperti biasa, setiap hari si gembala menggiring domba-domba ke atas gunung dan menjaganya sampai senja tiba, saat ia membawa domba itu kembali ke kandangnya di desa. Ia masih merasa hidup ini terlalu sepi untuknya, sendirian di atas gunung. Tapi ketika sedang merasa bosan ia ingat telah menipu penduduk desa, iapun tertawa terbahak-bahak.
Waktu berlalu dengan lambat, makin lama si gembala makin gelisah.
Kebosanannya hampir tak tertahankan. Ia bosan selalu memainkan lagu yang sama dengan suling yang dibawanya, tapi tak mampu menciptakan lagu-lagu baru. Dicobanya bernyanyi kepada domba-domba itu tapi tak ada yang memperhatikannya. Dicobanya merangkai bunga-bunga daisy, tapi sebentar saja jari-jarinya terasa sakit dan bunga-bunga itupun layu.
Iapun teringat, betapa lucunya melihat penduduk desa ke atas gunung sambil mengayun-ayunkan senjata ketika ia berteriak minta tolong. Alangkah senangnya melihat semua itu sekali lagi.
seperti yang telah dilakukannya, gembala itu turun sedikit ke lereng gunung lalu mulai berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA!" teriaknya. "SERIGALA! TOLONG! SERIGALA!"
Jauh di desa, penduduk mendengar teriakan si gembala, tapi kali ini mereka ragu-ragu untuk pergi menolongnya. Orang-orang yang sedang bekerja di ladang saling berpandangan.
"Dengarlah panggilan si gembala," kata yang satu. "Apakah itu lelucon lagi?"
"Aku tidak yakin." kata yang lain. "Tetapi barangkali sekarang ia betul-betul dalam kesulitan." Dengan rasa segan akhirnya penduduk desa memutuskan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan permintaan tolong si gembala.
Sekali lagi, mereka mengumpulkan apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata lalu beramai-ramai mendaki gunung. Sesampainya di padang rumput merekapun berkeringat dan kelelahan. Tapi seperti sebelumnya, mereka menemui domba-domba itu sedang merumput dengan senangnya. Sedikitpun tak ada tanda-tanda dari serigala.
"Mana serigalanya?" Tanya seorang dari mereka. Tawa terbahak-bahak si gembala sudah menjelaskan segala sesuatunya. Seperti duluu, anak nakal itu telah menipu mereka.
Dulu penduduk desa sudah cukup marah karena ditipu, dan sekarang mereka benar-benar sangat marah.
"Kamu anak yang bodoh dan egois!" mereka berteriak. "Ini waktu panen, dan kami harus bekerja lebih keras di ladang, tetapi kamu telah menipu kami semua untuk datang ke sini!"
Sekali lagi gembala minta maaf, dan kali ini ia betul-betul minta maaf. Ia dapat melihat betapa marahnya penduduk desa, dan juga betapa lelahnya orang-orang yang sudah tua memanjat gunung.
"Saya sungguh menyesal telah menyusahkan kalian," katanya mengaku salah.
Tapi penduduk desa memandangnya dengan curiga. Mereka tidak percaya lagi kepadanya.
Lama sekali penduduk desa tidak mau berbicara kepada si gembala. Akhirnya dengan segan mereka mau berteman lagi dengannya. Tapi orang tua yang telah memberinya peringatan ketika ia pertama kali menipu, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.
"Sekarang mungkin sudah terlambat," katanya.
Untuk beberapa minggu lamanya kehidupan di desa kembali seperti semula.
Kemudian pada suatu hari, ketika gembala sedang berbaring di padang rumput di suatu siang, dilihatnya pemandangan yang sangat mengerikan. Tidak hanya satu, tapi DUA ekor serigala yang sangat besar sedang berlari ke arah domba-domba sambil menggeram dan mengertakkan giginya.
Si gembala sangat ketakutan. Ia tahu dirinya tak akan dapat melawan binatang buas yang ganas itu. Ia segera bangkit dan lari ke bukit secepat mungkin.
Setelah cukup dekat ke desa sehingga suaranya dapat didengar, ia lalu berteriak sekencang-kencangnya.
"TOLONG! TOLONG! SERIGALA!"Teriakannya dapat didengar oleh orang-orang yang sedang bekerja di ladang, tapi tak ada satupun yang mempedulikannya.
"CEPAT KE SINI! MEREKA MENERKAM DOMBA-DOMBA!" teriaknya, cukup kencang sehingga seisi desa dapat mendengarnya. Tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Si gembala terus berteriak tapi tak ada seorangpun yang percaya. Iapun kembali ke atas gunung. Ketika sampai di padang rumput didapatinya semua dombanya sudah mati sedangkan serigalanya sudah pergi. Dengan sedih gembala pulang sendirian ke desanya. Penduduk desa tidak akan mempercayainya lagi untuk menjaga domba-domba mereka. Terlalu sering ia berteriak "SERIGALA!"

Cerita Anak Sekolah Minggu


Perjuangan Pohon Bambu

Tidak dikenal

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
"Ya," jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.
Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.
Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."
Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"
"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi
"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."
Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.


Anak yang suka berteriak "Serigala!"

diceritakan kembali oleh Judy Hamilton

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak gembala di sebuah desa kecil di pegunungan. Tugasnya adalah menjaga ternak milik penduduk desa, setiap hari membawa domba-domba itu ke padang rumput dan jika hari sudah senja menggiring domba itu kembali ke kandangnya. Pada musim panas gembala itu harus membawa domba-domba ke padang rumput yang lebih tinggi di atas gunung, tetapi malam harinya demi keselamatan ia tetap harus membawa domba itu kembali ke desa; di pegunungan itu banyak serigala yang akan menerkam domba-domba yang masih berkeliaran di padang rumput pada malam hari.
Si gembala sangat menyukai pekerjaannya, tetapi kadang-kadang ia merasa kesepian karena seharian berada di gunung tanpa teman.
Pada suatu hari di akhir musim panas, si gembala duduk di antara domba-dombanya di atas rumput gunung yang hijau, sambil mengamati desa yang terletak di bawahnya. Ia dapat melihat anak-anak, yang kelihatannya sangat kecil, sedang bermain-main di lapangan desa. Ia dapat melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk mempersiapkan hari pasar. Dan ladang di luar desa dilihatnya orang-orang sedang bekerja keras menjaga panenan yang sudah hampir dapat dituai. Setiap orang mempunyai teman untuk diajak bercakap-cakap atau bekerja. Dari semua penduduk desa, si gembalalah satu-satunya yang harus bekerja sendirian. Rasanya tidak adil.
Ia melihat berkeliling ke arah domba-domba yang sedang memakan rumput dengan tenang. Ia menyayangi domba-domba itu, tapi mereka tak dapat diajak bercakap-cakap atau membuatnya tertawa.
Si gembala merasa sangat bosan. Tak pernah ada kejadian yang menarik. Seandainya saja di pegunungan itu ada serigala, tapi seekor pun tak pernah terlihat. Sudah lama sekali serigala tidak kelihatan di situ......
Tiba-tiba si gembala mendapat ide. Ia tahu bagaimana caranya membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup. Ia melompat lalu lari ke lereng gunung ke arah desa. Sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya dibuat menjadi corong di mulutnya, lalu ia pun berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA! SERIGALA!"
Jauh di bawah, orang-orang desa mendengar teriakan gembala dan menjadi panik. Setiap orang segera berhenti bekerja. Pekerja-pekerja di ladang mengumpulkan tajak dan penggaruk mereka untuk digunakan sebagai senjata. Perempuan-perempuan mengambil sapu mereka. Anak-anak membawa tongkat untuk dilambai-lambaikan. Kemudian seisi desa bergegas ke lereng gunung untuk membantu si gembala.
Hari itu sangat panas dan gunung itu sangat curam, tetapi penduduk desa memanjat secepat mungkin. Ketika mereka sampai di padang rumput, mereka mencari-cari serigala tapi tak dapat menemukan seekor pun. Domba-domba sedang merumput dengan tenang, dan si gembala tertawa terbahak-bahak.
Ketika menyadari bahwa mereka ditipu oleh gembala, marahlah penduduk desa.
"Perbuatamu sangat bodoh!"kata mereka. "Kami telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga!"
Gembala itu meminta maaf, tapi diam-diam ia merasa puas karena tipuannya berhasil. Ia sangat senang!
"Jangan ulangi perbuatanmu,"seorang tua memperingatkannya. "Kalau nanti engkau betul-betul memerlukan pertolongan, tak seorangpun mau menolongmu."
Dengan masih marah penduduk desa meninggalkan gembala dan kembali ke lereng gunung.
Waktupun berlalu. Untuk beberapa lamanya gembala merasa kurang disukai oleh penduduk desa, tapi kemudian mereka memaafkannya dan segala sesuatunya kembali normal. Seperti biasa, setiap hari si gembala menggiring domba-domba ke atas gunung dan menjaganya sampai senja tiba, saat ia membawa domba itu kembali ke kandangnya di desa. Ia masih merasa hidup ini terlalu sepi untuknya, sendirian di atas gunung. Tapi ketika sedang merasa bosan ia ingat telah menipu penduduk desa, iapun tertawa terbahak-bahak.
Waktu berlalu dengan lambat, makin lama si gembala makin gelisah.
Kebosanannya hampir tak tertahankan. Ia bosan selalu memainkan lagu yang sama dengan suling yang dibawanya, tapi tak mampu menciptakan lagu-lagu baru. Dicobanya bernyanyi kepada domba-domba itu tapi tak ada yang memperhatikannya. Dicobanya merangkai bunga-bunga daisy, tapi sebentar saja jari-jarinya terasa sakit dan bunga-bunga itupun layu.
Iapun teringat, betapa lucunya melihat penduduk desa ke atas gunung sambil mengayun-ayunkan senjata ketika ia berteriak minta tolong. Alangkah senangnya melihat semua itu sekali lagi.
seperti yang telah dilakukannya, gembala itu turun sedikit ke lereng gunung lalu mulai berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA!" teriaknya. "SERIGALA! TOLONG! SERIGALA!"
Jauh di desa, penduduk mendengar teriakan si gembala, tapi kali ini mereka ragu-ragu untuk pergi menolongnya. Orang-orang yang sedang bekerja di ladang saling berpandangan.
"Dengarlah panggilan si gembala," kata yang satu. "Apakah itu lelucon lagi?"
"Aku tidak yakin." kata yang lain. "Tetapi barangkali sekarang ia betul-betul dalam kesulitan." Dengan rasa segan akhirnya penduduk desa memutuskan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan permintaan tolong si gembala.
Sekali lagi, mereka mengumpulkan apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata lalu beramai-ramai mendaki gunung. Sesampainya di padang rumput merekapun berkeringat dan kelelahan. Tapi seperti sebelumnya, mereka menemui domba-domba itu sedang merumput dengan senangnya. Sedikitpun tak ada tanda-tanda dari serigala.
"Mana serigalanya?" Tanya seorang dari mereka. Tawa terbahak-bahak si gembala sudah menjelaskan segala sesuatunya. Seperti duluu, anak nakal itu telah menipu mereka.
Dulu penduduk desa sudah cukup marah karena ditipu, dan sekarang mereka benar-benar sangat marah.
"Kamu anak yang bodoh dan egois!" mereka berteriak. "Ini waktu panen, dan kami harus bekerja lebih keras di ladang, tetapi kamu telah menipu kami semua untuk datang ke sini!"
Sekali lagi gembala minta maaf, dan kali ini ia betul-betul minta maaf. Ia dapat melihat betapa marahnya penduduk desa, dan juga betapa lelahnya orang-orang yang sudah tua memanjat gunung.
"Saya sungguh menyesal telah menyusahkan kalian," katanya mengaku salah.
Tapi penduduk desa memandangnya dengan curiga. Mereka tidak percaya lagi kepadanya.
Lama sekali penduduk desa tidak mau berbicara kepada si gembala. Akhirnya dengan segan mereka mau berteman lagi dengannya. Tapi orang tua yang telah memberinya peringatan ketika ia pertama kali menipu, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.
"Sekarang mungkin sudah terlambat," katanya.
Untuk beberapa minggu lamanya kehidupan di desa kembali seperti semula.
Kemudian pada suatu hari, ketika gembala sedang berbaring di padang rumput di suatu siang, dilihatnya pemandangan yang sangat mengerikan. Tidak hanya satu, tapi DUA ekor serigala yang sangat besar sedang berlari ke arah domba-domba sambil menggeram dan mengertakkan giginya.
Si gembala sangat ketakutan. Ia tahu dirinya tak akan dapat melawan binatang buas yang ganas itu. Ia segera bangkit dan lari ke bukit secepat mungkin.
Setelah cukup dekat ke desa sehingga suaranya dapat didengar, ia lalu berteriak sekencang-kencangnya.
"TOLONG! TOLONG! SERIGALA!"Teriakannya dapat didengar oleh orang-orang yang sedang bekerja di ladang, tapi tak ada satupun yang mempedulikannya.
"CEPAT KE SINI! MEREKA MENERKAM DOMBA-DOMBA!" teriaknya, cukup kencang sehingga seisi desa dapat mendengarnya. Tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Si gembala terus berteriak tapi tak ada seorangpun yang percaya. Iapun kembali ke atas gunung. Ketika sampai di padang rumput didapatinya semua dombanya sudah mati sedangkan serigalanya sudah pergi. Dengan sedih gembala pulang sendirian ke desanya. Penduduk desa tidak akan mempercayainya lagi untuk menjaga domba-domba mereka. Terlalu sering ia berteriak "SERIGALA!"

Cerita Anak Sekolah Minggu


Perjuangan Pohon Bambu

Tidak dikenal

Pada suatu waktu aku merasa sangat jenuh dan bosan dengan kehidupan ini dan ingin berhenti dari semuanya, berhenti dari pekerjaan, hubungan, spiritual... dan berhenti untuk hidup.

Aku pergi ke tengah hutan dan ingin berbicara untuk yang terakhir kalinya dengan Sang Pencipta.

"Tuhan, mohon berikan saya satu alasan untuk tetap hidup dan berjuang?"
Ternyata jawaban Maha Pencipta yang Agung sangat mengejutkan....

"Lihat di sekelilingmu, apakah kamu melihat tanaman Semak dan pohon Bambu?
"Ya," jawabku.
Yang Maha Pencipta mulai bertutur:

"Saat aku menanam benih Semak dan Bambu, aku memelihara mereka dengan sangat baik dan hati-hati. Aku memberi mereka sinar matahari, menyirami dengan air seadil-adilnya. Tanaman Semak tumbuh dengan sangat cepat. Daun-daunnya yang hijau tumbuh rimbun sampai menutupi tanah disekelilingnya. Sedangkan benih Bambu belum memperlihatkan apapun.
Tetapi aku tidak menyerah dan tetap memelihara mereka dengan baik dan adil. Pada Tahun ke-2, tanaman Semak tumbuh makin subur, rimbun dan makin bertambah banyak. Tetapi, benih Bambu tetap belum memperlihatkan tanda-tanda pertumbuhan.

Pada tahun ke-3, benih Bambu masih sama seperti sebelumnya. Tetapi, tetap Aku tidak menyerah. Begitu juga dengan tahun ke-4 masih sama saja. Aku bertahan untuk tidak menyerah.

Kemudian, pada tahun ke-5, tunas kecil mulai muncul dari benih bambu. Jika dibandingkan dengan tanaman semak, tunas ini sangat kecil dan sepertinya tidak sebanding dengan tanaman semak.
Tetapi 6 bulan kemudian pohon Bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 100 kaki.
Ternyata Bambu menghabiskan waktu 5 tahun untuk menumbuhkan dan menguatkan akarnya. Akar-akar tersebut membuat Bambu menjadi sangat kuat sehingga kokoh menghadapi keadaan alam yang berubah-ubah. Bahkan pohon Bambu sangat berguna untuk kehidupan.
Aku tidak akan memberikan cobaan yang lebih berat dari kemampuannya kepada ciptaanku."
Aku terdiam. Menyimak baik-baik.

"Anakku, apakah kamu sadar, selama ini kamu telah berjuang dan memperkuat akar? Aku tidak menyerah saat menanam benih dan memelihara pohon Bambu, begitu juga denganmu. Jangan membandingkan dirimu dengan yang lain. Bambu mempunyai fungsi yang berbeda dengan Semak, tetapi tetap mereka membuat hutan menjadi indah. Waktumu akan tiba dan kamu akan tumbuh dengan tinggi."

"Tetapi, seberapa tinggi saya harus tumbuh?" tanyaku.
Maha Pencipta menjawab: "Seberapa tinggi pohon Bambu tumbuh?"
"Apakah setinggi kemampuan dan usahanya?" tanyaku lagi
"Benar Anakku. Berusahalah sebaik dan semaksimal mungkin."
Kemudian aku pergi meninggalkan hutan dengan membawa kisah ini. Aku harap kisah ini dapat membantumu melihat bahwa Tuhan tidak pernah menyerah untukmu.

Jangan pernah menyesali setiap hari dalam hidupmu. Hari-hari yang baik memberi kebahagiaan; hari-hari yang buruk memberi pengalaman tak ternilai; keduanya sangat berharga.


Anak yang suka berteriak "Serigala!"

diceritakan kembali oleh Judy Hamilton

Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang anak gembala di sebuah desa kecil di pegunungan. Tugasnya adalah menjaga ternak milik penduduk desa, setiap hari membawa domba-domba itu ke padang rumput dan jika hari sudah senja menggiring domba itu kembali ke kandangnya. Pada musim panas gembala itu harus membawa domba-domba ke padang rumput yang lebih tinggi di atas gunung, tetapi malam harinya demi keselamatan ia tetap harus membawa domba itu kembali ke desa; di pegunungan itu banyak serigala yang akan menerkam domba-domba yang masih berkeliaran di padang rumput pada malam hari.
Si gembala sangat menyukai pekerjaannya, tetapi kadang-kadang ia merasa kesepian karena seharian berada di gunung tanpa teman.
Pada suatu hari di akhir musim panas, si gembala duduk di antara domba-dombanya di atas rumput gunung yang hijau, sambil mengamati desa yang terletak di bawahnya. Ia dapat melihat anak-anak, yang kelihatannya sangat kecil, sedang bermain-main di lapangan desa. Ia dapat melihat perempuan-perempuan yang sedang sibuk mempersiapkan hari pasar. Dan ladang di luar desa dilihatnya orang-orang sedang bekerja keras menjaga panenan yang sudah hampir dapat dituai. Setiap orang mempunyai teman untuk diajak bercakap-cakap atau bekerja. Dari semua penduduk desa, si gembalalah satu-satunya yang harus bekerja sendirian. Rasanya tidak adil.
Ia melihat berkeliling ke arah domba-domba yang sedang memakan rumput dengan tenang. Ia menyayangi domba-domba itu, tapi mereka tak dapat diajak bercakap-cakap atau membuatnya tertawa.
Si gembala merasa sangat bosan. Tak pernah ada kejadian yang menarik. Seandainya saja di pegunungan itu ada serigala, tapi seekor pun tak pernah terlihat. Sudah lama sekali serigala tidak kelihatan di situ......
Tiba-tiba si gembala mendapat ide. Ia tahu bagaimana caranya membuat segala sesuatu menjadi lebih hidup. Ia melompat lalu lari ke lereng gunung ke arah desa. Sambil menarik napas dalam-dalam, tangannya dibuat menjadi corong di mulutnya, lalu ia pun berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA! SERIGALA!"
Jauh di bawah, orang-orang desa mendengar teriakan gembala dan menjadi panik. Setiap orang segera berhenti bekerja. Pekerja-pekerja di ladang mengumpulkan tajak dan penggaruk mereka untuk digunakan sebagai senjata. Perempuan-perempuan mengambil sapu mereka. Anak-anak membawa tongkat untuk dilambai-lambaikan. Kemudian seisi desa bergegas ke lereng gunung untuk membantu si gembala.
Hari itu sangat panas dan gunung itu sangat curam, tetapi penduduk desa memanjat secepat mungkin. Ketika mereka sampai di padang rumput, mereka mencari-cari serigala tapi tak dapat menemukan seekor pun. Domba-domba sedang merumput dengan tenang, dan si gembala tertawa terbahak-bahak.
Ketika menyadari bahwa mereka ditipu oleh gembala, marahlah penduduk desa.
"Perbuatamu sangat bodoh!"kata mereka. "Kami telah menyia-nyiakan waktu yang sangat berharga!"
Gembala itu meminta maaf, tapi diam-diam ia merasa puas karena tipuannya berhasil. Ia sangat senang!
"Jangan ulangi perbuatanmu,"seorang tua memperingatkannya. "Kalau nanti engkau betul-betul memerlukan pertolongan, tak seorangpun mau menolongmu."
Dengan masih marah penduduk desa meninggalkan gembala dan kembali ke lereng gunung.
Waktupun berlalu. Untuk beberapa lamanya gembala merasa kurang disukai oleh penduduk desa, tapi kemudian mereka memaafkannya dan segala sesuatunya kembali normal. Seperti biasa, setiap hari si gembala menggiring domba-domba ke atas gunung dan menjaganya sampai senja tiba, saat ia membawa domba itu kembali ke kandangnya di desa. Ia masih merasa hidup ini terlalu sepi untuknya, sendirian di atas gunung. Tapi ketika sedang merasa bosan ia ingat telah menipu penduduk desa, iapun tertawa terbahak-bahak.
Waktu berlalu dengan lambat, makin lama si gembala makin gelisah.
Kebosanannya hampir tak tertahankan. Ia bosan selalu memainkan lagu yang sama dengan suling yang dibawanya, tapi tak mampu menciptakan lagu-lagu baru. Dicobanya bernyanyi kepada domba-domba itu tapi tak ada yang memperhatikannya. Dicobanya merangkai bunga-bunga daisy, tapi sebentar saja jari-jarinya terasa sakit dan bunga-bunga itupun layu.
Iapun teringat, betapa lucunya melihat penduduk desa ke atas gunung sambil mengayun-ayunkan senjata ketika ia berteriak minta tolong. Alangkah senangnya melihat semua itu sekali lagi.
seperti yang telah dilakukannya, gembala itu turun sedikit ke lereng gunung lalu mulai berteriak sekencang-kencangnya: "SERIGALA!" teriaknya. "SERIGALA! TOLONG! SERIGALA!"
Jauh di desa, penduduk mendengar teriakan si gembala, tapi kali ini mereka ragu-ragu untuk pergi menolongnya. Orang-orang yang sedang bekerja di ladang saling berpandangan.
"Dengarlah panggilan si gembala," kata yang satu. "Apakah itu lelucon lagi?"
"Aku tidak yakin." kata yang lain. "Tetapi barangkali sekarang ia betul-betul dalam kesulitan." Dengan rasa segan akhirnya penduduk desa memutuskan bahwa mereka tidak dapat mengabaikan permintaan tolong si gembala.
Sekali lagi, mereka mengumpulkan apa saja yang dapat digunakan sebagai senjata lalu beramai-ramai mendaki gunung. Sesampainya di padang rumput merekapun berkeringat dan kelelahan. Tapi seperti sebelumnya, mereka menemui domba-domba itu sedang merumput dengan senangnya. Sedikitpun tak ada tanda-tanda dari serigala.
"Mana serigalanya?" Tanya seorang dari mereka. Tawa terbahak-bahak si gembala sudah menjelaskan segala sesuatunya. Seperti duluu, anak nakal itu telah menipu mereka.
Dulu penduduk desa sudah cukup marah karena ditipu, dan sekarang mereka benar-benar sangat marah.
"Kamu anak yang bodoh dan egois!" mereka berteriak. "Ini waktu panen, dan kami harus bekerja lebih keras di ladang, tetapi kamu telah menipu kami semua untuk datang ke sini!"
Sekali lagi gembala minta maaf, dan kali ini ia betul-betul minta maaf. Ia dapat melihat betapa marahnya penduduk desa, dan juga betapa lelahnya orang-orang yang sudah tua memanjat gunung.
"Saya sungguh menyesal telah menyusahkan kalian," katanya mengaku salah.
Tapi penduduk desa memandangnya dengan curiga. Mereka tidak percaya lagi kepadanya.
Lama sekali penduduk desa tidak mau berbicara kepada si gembala. Akhirnya dengan segan mereka mau berteman lagi dengannya. Tapi orang tua yang telah memberinya peringatan ketika ia pertama kali menipu, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan sedih.
"Sekarang mungkin sudah terlambat," katanya.
Untuk beberapa minggu lamanya kehidupan di desa kembali seperti semula.
Kemudian pada suatu hari, ketika gembala sedang berbaring di padang rumput di suatu siang, dilihatnya pemandangan yang sangat mengerikan. Tidak hanya satu, tapi DUA ekor serigala yang sangat besar sedang berlari ke arah domba-domba sambil menggeram dan mengertakkan giginya.
Si gembala sangat ketakutan. Ia tahu dirinya tak akan dapat melawan binatang buas yang ganas itu. Ia segera bangkit dan lari ke bukit secepat mungkin.
Setelah cukup dekat ke desa sehingga suaranya dapat didengar, ia lalu berteriak sekencang-kencangnya.
"TOLONG! TOLONG! SERIGALA!"Teriakannya dapat didengar oleh orang-orang yang sedang bekerja di ladang, tapi tak ada satupun yang mempedulikannya.
"CEPAT KE SINI! MEREKA MENERKAM DOMBA-DOMBA!" teriaknya, cukup kencang sehingga seisi desa dapat mendengarnya. Tapi tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Si gembala terus berteriak tapi tak ada seorangpun yang percaya. Iapun kembali ke atas gunung. Ketika sampai di padang rumput didapatinya semua dombanya sudah mati sedangkan serigalanya sudah pergi. Dengan sedih gembala pulang sendirian ke desanya. Penduduk desa tidak akan mempercayainya lagi untuk menjaga domba-domba mereka. Terlalu sering ia berteriak "SERIGALA!"